Skip to main content

Pemikiran Filsafat John Dewey ( bagian 2 )

Secara garis besar, pemikiran filsafat John Dewey terdapat dalam konsepsi-konsepsi yang dibangunnya, dan dituangkannya ke dalam wacana-wacana yang dapat dipahami secara mudah oleh kalangan awam. John Dewey mewarnai gagasannya secara konstruktif dan dinamis melalui fenomena-fenomena hidup dan maknanya yang dituangkan dalam berbagai konsepsi filosofis, yang memiliki relevansi kental dengan situasi saat ini. Dalam bagian ini akan dijelaskan pemikiran filsafat Dewey sesuai dengan apa yang telah ditulis oleh Heinemann (1996) bahwa terdapat empat konsep fundamental dalam pemikiran filsafat Dewey yakni pengalaman, pertumbuhan, transaksi dan penyelidikan (inquiry).
PengalamanTerdapat perbedaan pandangan tentang pengalaman antara pemikiran ortodoksi dan pemikiran kekinian yang cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang.
Pertama, pandangan ortodoksi mendeskripsikan pengalaman sebagai suatu yang berkaitan dengan pengetahuan, sedangkan kekinian memandang pengalaman sebagai hubungan timbal balik yang erat antara fisik dan lingkungannya. Kedua, pandangan ortodoksi menyatakan bahwa (sedikitnya pada awalnya) merupakan sesuatu fisik yang dipengaruhi oleh subyektivitas, yang menurut pandangan kekinian pengalaman merupakan dunia nyata yang masuk ke dalam tindakan manusia dan dimodifikasi melalui respon-respon mereka. Ketiga, pengalaman terikat pada apa yang telah ada atau diberikan, namun kini bentuk vital pengalaman merupakan eksperimen, suatu usaha untuk mengubah apa yang telah diberikan; yang ditandai oleh proyeksi, penjelajahan yang tidak diketahui, berhubungan dengan masa depan, dan merupakan ciri khas. Keempat, dulu pengalaman itu diperuntukkan pada kekhususan, namun sekarang pengalaman di bawah kendali lingkungan dan perjuangan untuk mengendalikannya. Kelima, dalam pandangan tradisional pengalaman dan pemikiran merupakan permasalahan antitetika, namun pengalaman berdasarkan pemahaman kekinian penuh dengan kesimpulan di mana secara nyata, tidak ada pengalaman nyata tanpa kesimpulan, refleksi alami dan tetap.Dua hal telah memberikan sumbangan suatu konsepsi baru tentang pengalaman dan suatu konsepsi baru tentang hubungan antara alasan terhadap pengalaman, atau istilah yang lebih akurat, sebagai tempat atau posisi alasan dalam pengalaman. Faktor terpenting adalah perubahan yang telah mengambil tempat dalam pengalaman yang aktual, isi dan metodenya, sebagaimana saat ini hidup. Faktor lain menyangkut perkembangan psikologi berdasarkan biologi di mana memungkinkan formulasi pengetahuan baru tentang sifat dasar pengalaman.
PertumbuhanHidup adalah perkembangan, dan berkembang maupun tumbuh, adalah hidup. Konsep ini diterjemahkan kesamaannya dalam pendidikan yang berarti bahwa (i) proses pendidikan tidak memiliki akhir di luar perkembangannya sendiri; (ii) proses pendidikan adalah salah satu dari keberlanjutan reorganisasi, rekonstruksi, dan transformasi. Berkembang, ketika diinterpretasikan dengan masa kanak—kanak dan kehidupan dewasa, berarti arah kekuatan ke dalam saluran khusus formasi kebiasaan yang melibatkan keterampilan prima, kepastian minat dan obyek khusus tentang observasi dan pemikiran. Realisasi bahwa hidup adalah tumbuh melindungi kita dari apa yang disebut sebagai pengidiolaan masa kecil yangmana berakibat pada “bukan apa yang disebut sebagai pengidolaan masa kecil yang berakibat pada bukan apa-apamelainkan kemalasan yang berperan serta. Oleh karena pertumbuhan merupakan karakteristik hidup maka pendidikan menjadi satu dengan sarana pertumbuhan; di mana tidak ada akhir dalam pertumbuhan. Kriteria nilai pendidikan di sekolah adalah sejauhmana di dalamnya tercipta keinginan untuk tumbuh dan mengisinya dengan membuat keinginan tersebut secara efektif menjadi kenyataan.
TransaksiSetiap bagian dari hidup merupakan proses aktivitas yang melibatkan lingkungan. Konstruksi hubungan tersebut merupakan perpanjangan transaksi di luar batas spatials dari sistem organik (organisme). Sebuah organisme tidak hidup dalam suatu lingkungan, karena kehidupan (sistem organik) itu sendiri merupakan sebuah lingkungan. Setiap fungsi organik merupakan suatu interaksi energi-energi intra dan ekstraorganik, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Kehidupan di dunia ini tidak berbeda dengan aktivitas kehidupan dari sebuah organisme. Tetapi mereka bukanlah bagian dari lingkungannya, yang aman secara permanen. Proses-proses kehidupan ditentukan oleh lingkungan, sebagaimana organisme: di mana mereka merupakan suatu kesatuan. Kesatuan mengikuti arus di mana setiap perbedaan struktur dari lingkungan meluas. Setiap sel baru memberikan cara baru berinteraksi di dunia yang dikenali sebelumnya bahwa kesamaaan masuk di dalam setiap fungsi-hidup. Dengan perbedaan interaksi-interaksi datang kebutuhan untuk memelihara suatu perimbangan di antara mereka maka kapasitas untuk memelihara suatu bentuk interaksi yang terus menerus antara organisme dan lingkungan tidak terbatas pada satu organisme. Setiap aktivitas memiliki cara beraksi, dan cara-cara ini bukan sekedar suksesi melainkan suatu seri. Sering kualitas aktivitas hidup dipengaruhi melalui perimbangan halus yang berasal dari faktor-faktor kompleks masing-masing aktivitas.Dalam perkembangan tingkahlaku normal terdapat sirkulasi di mana pada tahap awal atau pembuka terjadi ketegangan atas berbagai elemen dari kekuatan organik, sementara tahap akhir atau penutup merupakan tempat kesatuan interaksi antara organisme dan lingkungan. Kesatuan tersebut merupakan gambaran perwakilan, di mana sisi organik oleh keseimbangan kekuatan organik dan sisi lingkungan oleh keberadaan kondisi yang menyenangkan. Dalam perilaku organisme yang lebih tinggi, kedekatan sirkulasi tidak identik dengan apa yang dinyatakan keseimbangan dan ketegangan muncul. Modifikasi tertentu dari lingkungan juga terjadi, meskipun itu barangkali hanya suatu perubahan kondisi di mana perilaku kedepan pasti bertemu. Sebaliknya, terdapat perubahan dalam struktur organik tentang kondisi perilaku ke depan. Modifikasi tersebut diistilahkan sebagai kebiasaan.Lingkungan di mana manusia hidup, bertindak, dan menyelidik (inquiry) tidaklah sekedar secara fisik, melainkan juga budaya. Problem-problem yang melahirkan pertanyaan tumbuh dari hubungan antara satu anggota dan lainnya, dan bagian-bagian yang terkait tersebut tidak hanya mata dan telinga, melainkan makna-makna yang telah berkembang dalam keseluruhan hidup, bersama dengan cara-cara membentuk dan mengalirkan budaya dengan semua unsur pokok dari peralatan, seni, lembaga, tradisi, dan kepercayaan yang dianut.
Refleksi dan PenyelidikanMenguji berbagai contoh akan terlihat bahwa masing-masing kasus pemikiran memunculkan secara langsung situasi yang pernah dialami. Orang tidaklah hanya berfikir secara luas, tidak pula memunculkan gagasan yang bukan apa-apa. Dalam kasus pertama, seorang siswa sedang sibuk dengan bagian-bagian tertentu dari suatu kota, dan pikirannya masih tetap terikat pada tempat lain. Kasus kedua, seseorang yang sedang mengendarai sebuah feri, namun mulai khawatir tentang sesuatu dalam konstruksi ferinya. Kasus ketiga, seorang siswa dengan pelatihan ilmu pengetahuan sebelumnya, sibuk mencuci piring. Dalam masing-masing kasus, dalam semua situasi sebetulnya merupakan pengalaman yang menyisakan pertanyaan dan menyerukan refleksi. Apabila situasi lebih rumit, pemikiran dengan sendirinya akan terelaborasi. Sederhana atau rumit berkaitan dengan apa yang harus dikerjakan atau apa yang mempengaruhi problem-problem ilmu pengetahuan dan filosofis, akan selalu melibatkan dua sisi, yaitu kondisi yang diperhitungkan berkaitan dengan gagasan-gagasan tentang rencana untuk berhubungan dengan mereka atau harapan-harapan untuk menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena. Di antaranya, sebagaimana dinyatakan dalam konsep berpikir, yaitu: (1) saran, di mana otak berkutat dengan kemungkinan solusi; (2) merasionalisasi kesulitan dan kebingungan yang dirasakan (secara langsung dialami) ke dalam problem untuk dipecahkan, suatu pertanyaan di mana jawaban harus dicari; (3) hipotesis untuk memprakasai dan membimbing observasi dan tindakan lain dalam pengumpulan materi fakta; (4) elaborasi mental terhadap gagasan atau harapan sebagai suatu gagasan atau harapan (alasan, dalam kerangka di mana alasan merupakan bagian dari, bukan keseluruhan, dari kesimpulan); dan (5) menguji hipotesis dengan tindakan nyata atau imajinasi.
Teori Etika dan NilaiTeori etika dimulai pada zaman orang Yunani mencari upaya untuk menemukan peraturan pengendalian hidup yang memiliki basis rasio dengan tujuan mengganti sesuatu yang diturunkan dari adat. Namun, alasan sebagai ganti dari adat adalah karena adanya kewajiban untuk mengisi obyek dan hukum yang pas sebagaimana adat. Teori etika selama ini telah dihipnotis oleh rasa bahwa urusannya untuk menemukan beberapa ujung final, atau bagus atau suci dan hukum tertinggi. Moral bukanlah suatu katalog dari tindakan bukan pula serentetan peraturan untuk diaplikasikan seperti resep obat-obatan atau buku resep masak. Kepentingan moral adalah untuk metode khusus penyelidikan dan penemuan; metode penyelidikan untuk menempatkan kesulitan dan kejahatan; metode penemuan untuk menyusun rencana yang digunakan sebagai kerja hipotesis yang berhubungan dengan mereka. Pragmatisme impor daripada logika situasi individual, masing-masing memiliki prinsip dan kebajikan yang tak tergantikan, yaitu untuk mentransfer perhatian daripada teori dari pemenuhan dengan konsepsi-konsepsi umum ke problem pengembangan metode efektif untuk penyelidikan.KebenaranPengakuan akan kebenaran diberikan oleh tipe logika eksperimen dan fungsional, di mana keseluruhan merupakan warna-warni dari logika berfikir dan gagasan. Apabila gagasan, arti, konsepsi, rasa, teori, sistem adalah alat untuk suatu organisasi aktif suatu lingkungan, untuk menghilangkan kesulitan khusus dan kebingungan, kemudian tes validasi dan nilai terletak pada kelengkapan kerja ini. Bila sukses di suatu kantor, mereka terpercaya, didengarkan, valid, bagus, mereka betul. Bila mereka gagal untuk menghilangkan kebingungan, untuk mengurangi kerusakan, bila mereka menambah kebingungan, ketidakpastian dan buruk, ketika melakukan itu, mereka salah. Tindakan-tindakan mengarah pada betul atau salah; yang menuntun kita untuk mengakhiri atau menjauh dari itu. Hipotesis yang jalan benar; dan kebenaran merupakan suatu benda abstrak yang diterapkan terhadap kumpulan kasus, peramalan dan keinginan yang memperoleh konfirmasi dalam kerja dan konsekuensi
Tentang FilsafatAlasan dan InteligensiRekonstruksi penting dari filosofi akan mengarahkan inteligensi bukan sebagai penentu asli dan penyebab akhir dari sesuatu, tetapi sebagai keseluruhan tujuan, penajam kembali fase-fase alam dan kehidupan yang merintangi kenyamanan sosial. Eksperimental inteligensi, dipahami setelah pola ilmu pengetahuan, digunakan dalam penciptaan seni sosial. Hal itu membebaskan manusia dari kekangan masa silam, sehubungan dengan kemasabodohan yang mengeras ke dalam adat.FilosofiSiapa pun yang memulai tanpa reservasi mental untuk mempelajari sejarah filosofi bukan sebagai sesuatu yang terisolasi tetapi sebagai suatu bagian dari perkembangan peradaban dan kebudayaan; bila seseorang akan menghubungkan sejarah filosofi dengan belajar antropologi, kehidupan primitif, sejarah agama, literatur dan institusi sosial, di mana secara meyakinkan ditegaskan bahwa dirinya akan mencapai pendapatnya sendiri yang independen. Mengambil posisi ini sejarah filosofi akan menempati keberadaan baru. Apa yang hilang dari sudut ilmu pengetahuan memperoleh kembali pendirian humanis. Dalam filosofi klasik dunia yang ideal adalah suatu surga di mana manusia menemukan istirahat dari badai kehidupan, yang menjadi suaka di mana ia mengungsi dari kesulitan yang ada dengan jaminan halus bahwa hal itu sendiri kenyataan yang tertinggi. Ketika praktek pengetahuan dihentikan menjadi dialektikal dan menjadi eksperimental, penguasaan menjadi keasyikan dengan perubahan dan tes pengetahuan menjadi kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan tertentu. Berbicara secara filosofis, hal ini merupakan perbedaan yang besar, melibatkan perubahan dari pengetahuan dan filosofi sebagai kontemplasi untuk beroperasi. Filosofi adalah kupasan; kupasan dari kepercayaan yang berpengaruh yang menggarisbawahi kebudayaan; sebuah kupasan yang melacak kepercayaan ke kondisi asal mereka sejauh mungkin, yang melacak mereka ke asal usul mereka, yang mempertimbangkan keharmonisan timbal balik dari elemen-elemen total struktur kepercayaan.Filosofi dan PendidikanBila pendidikan dilukiskan sebagai proses pembentukan dasar-dasar disposisi, intelektual dan emosional, ke arah alam dan manusia (nature and fellow men), filosofi bahkan mungkin didefinisikan sebagai teori umum pendidikan. Kecuali filosofi tetap sebagai simbol atau verbal atau yang lainnya yaitu hanya sebagai dogma, yang mengaudit pengalaman masa lalu dan program nilai yang harus dilakukan. Tindakan nyata dari legislatif, eksekutif, atau media massa menjadi alat efektif untuk mengubah pandangan di mana filosofi itu mengasyikkan, tetapi hanya mereka yang memiliki pendidikan tinggi yang bisa mengubah perilaku mental dan moral. Filosofi pendidikan bukan suatu aplikasi eksternal dari gagasan yang siap dibuat untuk sebuah sistem yang dipraktekkan secara berbeda dari aslinya. Hal itu hanya akan menjadi formula eksplisit terhadap problem kesulitan hidup saat ini. Definisi yang paling dalam dari filosofi yang dapat diberikan adalah bahwa filosofi merupakan teori pendidikan dalam wacana yang sangat umum.Disarikan dari sumber: Noddings, N. (1997), Philosophy of Education: The Philosophical and Educational Thought of John Dewey. Westview Press, a member of Percus Books, L.L.C.( Co-Mimbar Demokrasi )

Comments

Popular posts from this blog

Di Balik Pemikran Pendidikan John Dewey ( Bagian 1 )

D alam Tulisan ini mencoba untuk mengidentifikasi secara lebih jauh pemikiran John Dewey tentang pendidikan. Apa yang kita pahami, pemikiran pendidikan Dewey seiring dengan konsepsi filsafat eksperimentalisme yang dibangunnya melalui konsep dasar penmgalaman, pertumbuhan, eksperimen dan transaksi. Secara demikian Dewey juga melihat teori filsafatnya sebagai suatu teori umum tentang pendidikan dan melihat pendidikan sebagai laboran yang di dalamnya perbedaan-perbedaan filosofis menjadi konkrit dan harus diuji serta karena pendidikan dan filsafat saling membutuhkan. Terdapat dua kontribusi penting dari konsep pendidikan Dewey yakni, konsepsi baru tentang pendidikan sosial dan kesosialan pendidikan, serta memberikan bentuk dan substansi baru terhadap konsep pendidikan yang berfokust pada anak. ( Pendidikan, John Dewey, eksperimentalisme). Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan pada dirinya sendiri bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memang memiliki daya dorong pada perubahan,

Pemikiran Filsafat John Dewey (Bagian 3: habis)

John Dewey dan Pendidikan Pembahasan di sini difokuskan pada John Dewey sebagai seorang pendidik, meskipun konsepsi pendidikan yang dirumuskannya sangat kental dengan pemikiran filosofisnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran-pemikiran Dewey banyak berpengaruh pada praktek pendidikan masakini. Seiring itu pula, pemikiran-pemikiran Dewey, banyak memperoleh tanggapan pro dan kontra dari berbagai kalangan. Bagi mereka yang pro, pemikiran Dewey merupakan penyelamat pendidikan Amerika. Sebaliknya, mereka yang tidak sepakat, gagasan Dewey disebutnya sebagai lebih rusak dari gagasan Hitler.John Dewey adalah seorang filsuf dan pendidik, yang lahir tahun 1859 dan meninggal tahun 1952. Sebagai seorang filsuf, aliran filosofinya diklasifikasikan dalam kategori. Pragmatisme, meskipun Dewey sendiri lebih sering menggunakan istilah instrumentalisme dan eksperimentalisme. Menurut Garforth (1996) filosofi pragmatisme sering diarahkan sebagai filosofi konsekuensi yang menggunakan hasil atau konseku

Penderitaan Rakyat Momentum Penyatuan Pergerakan Mahasiswa

Oleh : IksanHb Pergerakan solidaritas mahasiswa atas kedaulatan rakyat dalam memperjuangkan demokratisasi di Indonesia, ada dalam roh kekuatan suara rakyat. Satu filosis idiologi pergerakan rakyat adalah gerakan terorganiser lebih baik dari pada kekuatan individu yang berkuasa. Potensi yang bersumber dari riel kekuatan rakyat dan penyatuan pergerakan mahasiswa adalah sebuah kekuatan besar dalam menentukan sebuah pilihan. Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. (Wekipedia, Gerakan Mahasiswa Indonesia.) Gerakan mahasiswa diberbagai momentum dalam menciptakan sebuah perubahan dan pergantian pemimpin seperti yang terjadi di berbagai n