Jumat, Desember 04, 2009

Tuhan Akrab dengan Mereka

Oleh Abdurrahman Wahid

Majalah Zaman baru-baru ini menampilkan sejumlah besar sajak anak-anak dibawah umur 15 tahun. Sajak-sajak-sajak itu selama ini di muat dalam rubrik ‘Kebun Kita’ majalah tersebut, tentu saja telah diseleksi.

Secara keseluruhan, puisi yang terkumpul dalam tiga belas halaman itu menunjukkan kuatnya apresiasi sastra anak-anak kita dewasa ini, dan membuktikan tidak sia-sianya pelajaran Bahasa Indonesia di semua sekolah, betapa banyak kekurangannya sekalipun.

Mungkin kekurangan terbesar pada segi perbendaharaan kata yang sangat miskin, akibat logis dari kecenderungan orang dewasa yang sangat kuat untuk menggunakan istilah dari bahasa asing atau bahasa daerah. Namun kekurangan itu diimbangi oleh kemampuan cukup besar untuk mengolah kata-kata, sehingga memiliki nuansa dan pengertian baru. Juga besarnya keharuan yang mendorong para penyair cilik kita untuk menciptakan puisi yang menyentu rasa, bahkan sesekali mengharukan. Dalam pendahuluan, redaktur Zaman Jimmy Supangkat menyidik besarnya rasa murung yang ada dalam karya-karya tulis itu, terutama dalam sajak berbentuk doa. Jenis ini cukup banyak , 56 buah, namun banyak yang cengeng, ungkapannya kebanyakan klise belaka dan sarat dengan pengaduan masalah yang tak terselesaikan.

Yang barangkali perlu dipahami adalah justru arti penting dari banyaknya jumlah sajak berbentuk doa - sebuah kenyataan yang sekaligus memantulkan keadaan kita dewasa ini maupun potensi yang dimilikinya untuk menatap masa depan dengan sehat dan baik.

Sajak Doa dapat saja berwatak pelarian, terlalu mendambakan utopia. Dalam hal itu, ia akan berfungsi negaif bagi masa depan, karena manusia kehilangan kemampuan melihat realitas kehidupan.

Hal seperti itu tidak nampak dalam kumpulan sajak anak-anak yang dikumpulkan majalah Zaman itu. Umpamanya saja dapat dilihat kedewasaan dialog para penyair cilik itu dengan Tuhan masing-masing. Tuhan menggumpal jadi sasaran kebutuhan duniawi Zul Irwan, yang masih belum yakin dengan kemampuannya mempersiapkan diri menghadapi tugas sekolah, dalam kata-katanya.

Tuhan.../berikan aku mimpi malam ini/ tentang matematika/yang diujikan besok pagi.

Sudah tentu ia sendiri paling sadar, bahwa Tuhan tidak akan menuruti permintaan kocak tersebut.

Tuhan jugalah yang jadi sasaran kebingungan Adi Utomo Hatmoko yang mengalami keterputusan komunikasi, ketika ia berdoa

Doaku sudah ku akhiri/hingga engkau tidak bakal mengerti/Amin.

Sebaliknya, Agatha Artistayudha menggugat suasana tidak peduli kepada Tuhan, dalam sajaknya ‘Kitab Suci’:

Engkau di dalamnya, Tuhan? terpepet/dan/menjadi makanan rayap/ketika semua orang/tak menghiraukanMu lagi

Bisa juga Tuhan menjadi obyek kekenesan belaka, seperti di perbuat Sri Pinurih

Tuhanku …../ aku tidak sanggup meneruskan/karena tenggelam/dalam isak tangis/kedukaan/.

Atau obyek sikap manja Rusbandi dalam ‘Kepada Tuhan’

Tuhan, bukan bintang yang ingin kuminta/bukan pula bulan/aku hanya meminta sebuah kitab/yang berisikan puisi/untuk ayah bunda.

Dalam sajak-sajak mereka, ada juga kesadaran yang dewasa tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti ‘Doa’ Avida Virya yang tadinya minta baju baru dari Tuhan:

Aku mendengar/Tuhan berkata ; engkau tak perlu gelisah/mamamu akan memberimu/bahkan lebih baik lagi

Dalam pola inilah para penyair cilik itu menuntut kejujuran dalam hubungan dengan Tuhan, seperti ungkap Dewi Marhaini Nasution

Tuhanku/kupandang mata ibuku dalam-dalam/agar dapat melihat/apakah ibuku jadi juga pergi ke masjid/bersembahyang Isa?

Di samping tuntutan tersebut, penyair cilik ini juhga merasakan kehadiran Tuhan dalam bentuk sangat sublim.

Sunguh aku tak tahu/bahwa Tuhan itu/adalah Kau/yang setiap saat kujumpai/lewat permainan kami tadi.

Mohamad Sofyan juga merasakan kehadiran Tuhan dalam kedekatan hubungan antara sesama manusia, walaupun dalam arti yang lain lagi.

Bila Kau hendak memangil/pangil aku sendiri/bila Kau hendak memberi/jangan aku sendiri.

Betapa polosnya hubungan mereka dengan Tuhan, inilah yang mungkin akan mengekalkan penghayatan keimanan bangsa ini, bukannya khotbah para agamawan ataupun diskusi pemikiran agama.

Seolah olah para penyair cilik itu mengerti benar, bahwa masalah dasar bangsa ini hanya teratasi, kalau warga bangsa memiliki wawasan transendental yang kaya, yang memungkinkan mereka menemukan harkat manusia.

Wawasan seperti itu hanya akan tercapai, kalu manusia mampu berdialog dan merasa dekat dengan Tuhannya. Keakraban manusia dalam keadaan begitu, akan diimbangi oleh keakraban Tuhan dengan dirinya, yang akan memberinya kekuatan mnyelesaikan kemelut yang diciptakannya sendiri.

Dengan kemampuan para penyair cilik itu untuk merasa dekat dengan Tuhan, seperti digambarkan di atas, jadi nyata bagi kita bahwa Tuhanpun merasa akrab dengan mereka. Mampukah kita mencari keakraban seperti itu?

Kita dapat belajar dari Rudiawan Triwidodo dalam sajak ‘Doa Di Bibir Sumur’, ketika ia mengharapkan ‘tetesan air mata Tuhan’:

Agar tersedu tangis kami dengan wajar/sebab hampir terlupa bagaimana kami/harus menangis/dengan benar/mensyukuri berkat dan rahmat-Mu/yang melimpah/di luar sadar kami/agar basah sumur-sumur kami/tersiram air kasih yang memancar dari/Sumber keMahaanMu/Amin.

(Sumber: TEMPO, 8 Januari 1983)

Links

KOMPAS.com

detiknews

Blog Archive

Jaringan MD


  • Rubrik Elektronik

    1.NOVEE

    2.ADIE

    3.DANIAL ANWAR

    4.MADONG

    5.ANAK LAWANG

    6.ABAH IYUS

    7.ABAH ORIZA

    8.ABDUL

    9.ADHE

    10.ADHIS

    11.AFANDI

    12.AGAZ

    13.AGUNG ANDRI

    14.AHSAN DENBAGUS

    15.ANDHIKA MAPPA

    16.ANDIYAURIE

    17.ANDRA

    18.ANWAR

    19.ARIF

    20.ARIFF

    21.ARTIKEL IT

    22.ARYANTO ABIDIN

    23.ASTOLANI

    24.ATMO

    25.ATOK

    26.BAWOR

    27.BBB

    28.BENNI

    29.BRITA NASIONAL

    30.BERLY

    31.BILAL

    32.SYAWAL

    33.BUNGARAMPAI

    34.CAMEL ZINE

    35.CANGKRUAN

    36.CERITA CINTA

    37.CHANNEL1

    38.JEPARA

    39.DEWA API

    40.DEWI RATIH

    41.DIGHITALIA

    42.DUNIA BUKU

    43.DWI PURW ANTO

    44.DZIKIR ABDI

    45.EDY PRASETYO

    46.EDO SEGARA

    47.EDY SUDRAJAT

    48.EKA

    49.EMBAH BILANG

    50.ESUDRAJAT

    51.FERRLIU

    52.FIR4 MANIS

    53.FRIDA

    54.GANDHI ANWAR

    55.GLOBAL JUSTICE

    56.GREAT AXCESS

    57.GREEN BALI

    58.GURU BASHID

    59.GUSNA

    60.HALFIAN

    61.HANK NUSA

    62.HAYAT DK BADAN

    63.HIMAM

    64.HUKUM TATANEGARA

    65.IJALULU

    66.INDAH RECIPE FOOD

    67.INDRA GUNAWAN

    68.IRUR

    69.ISMAIL

    70.IWAN HAFIDZ ZAINI

    71.IzulCyberCafe

    72.JEFFRY SIREGAR

    73.JENDRAL QI

    74.JOSTOR

    75.KELAT

    76.KEMBANG SETAMAN

    77.KESEHATAN GIGI

    78.KOLOR BOLONG

    79.KOMUNITAS DEMOKRASI

    80.KOMUNITAS SERUIT

    81.LECTURE RESUME

    82.LENTERA

    83.LINTANG IV LAWANG

    84.LP3I MAKASAR

    85.LUCIANO MENDE

    86.M.SAIFUN SALAKIM

    87.MALAIKAT KECIL

    88.MALIKI XP

    89.MAMAVIAN

    90.MARGARET

    91.MASALAH KORUPSI

    92.MENGENAL BUD TERNATE

    93.MUCHI
    94.MUKTI EMIER

    95.MUSICCART7

    96.MUSTHAFA AMIN

    97.MUTHIA ESFAND

    98.MY LOGIC

    99.NANDA

    100.NARAPIDANA IND

    101.NATALUDIN

    102.NEWS

    103.PAS SOCEITY

    104.PECANGKUL

    105.PEND SAMPINGAN

    106.PRIBADI

    107.PRO LIFE

    108.PUAN

    109.QOLBY 80's

    110.RAJA BAHAK

    111.RAGA

    112.REDHA HERDIANTO

    113.RENDY PUTRA

    114.REY

    115.RIZKI EKA PUTRA

    116.ROE

    117.RUANGASA

    118.SAHABATKU

    119.SAIFURRAHMAN

    120.SAKUARA FLORIST

    121.SALEH AWAL

    122.SISWANDI

    123.KLIPING LP NARKOTIKA

    124.LP NARKOTIKA

    125.SMNS

    126.SOELTRA

    127.SOROGAN

    128.STEVEN

    129.SUARA SALATIGA FM

    130.SUGOI STORY

    131.TUKANG KETIK

    132.VIETNAM BLOGGER

    133.WIZURAI

    134.ZAMRUD ONLINE

    135.METHA JOELY

    136.EYANG MOJO

    137.MAILKITA

    138.Nur samsudin

    139.SARANG HAEELLING

    140.FAUZANSIGMA WP

    141.STOP KUBENCISEKOLAH

    142.PARLIN

    143.CINDY

    144.CAKYOUD

    145.ANDRE

    146.ARYANA

    147.HERI

    148.CIVIL ENGINEERUNG

    149.Blitar online

    150.Bengz al quevara

    151.Rotmianto

    152.Jeritan Hati Bowok

    153.Gandhi Anwar

    154.Surya Sejahtera Kediri

    155.Banirisset

    156.Panda Memory

  •  

    Copyright © 2009 by Mimbar Demokrasi